Saat Frustasi Datang Karena Harus Bekerja Dengan Expat…


Pernah frustasi berkomunikasi dengan expat? Di dunia jaman sekarang sepertinya kebanyakan dari kita pernah berinteraksi sedikit banyak dengan orang non-Indonesia. Bahkan sekarang banyak perusahaan lokal mulai mempekerjakan beberapa WNA untuk beberapa kompetensi yang memang tidak (atau belum) dimiliki oleh orang Indonesia.

Nah, pasti banyak tuh cerita-cerita lucu ataupun hal yang bikin frustasi selama kita berinteraksi dengan mereka. Tapi apa pernah berpikir bahwa mereka juga sebenarnya juga ‘frustasi’ bagaimana bisa berkomunikasi dan membuat kita (baca: orang Indonesia) mengerti (dan mau melakukan) apa yang mereka maksud dalam hubungan kerja.

Disini saya berbicara tentu saja diluar konteks penggunaan bahasa. Kalau hanya sekedar berbicara Bahasa Inggris – itu mudah, tapi seringkali hal-hal yang membuat frustasi saat kita harus berinteraksi dengan expat itu adalah justru mengenai konflik budaya. Beberapa kebiasaan kita yang menurut saya, sering menjadi hal yang salah kaprah bagi para expat sehingga mengakibatkan konflik budaya dalam hubungan kerja:

1. Orang Indonesia melepas stress dengan tertawa

Saya pernah mendengar bahwa ada seorang expat yang BT karena disaat break meeting yang topiknya membicarakan mengenai hal yang sensitif dan memusingkan, dia melihat sekelompok senior manager malah justru asyik merokok sambil bercanda ria tertawa lepas. Terbayang yang ada di pikiran dia – bagaimana bisa bahwa di keadaan yang sedang ‘genting’ ini orang Indonesia bisa tertawa terbahak-bahak ? apakah mereka tidak merasakan sense of crisis?

Mungkin si expat tadi tidak sadar bahwa itulah cara orang Indonesia melepas stress dengan cara bercanda, tertawa. Bahkan saat negara kita ‘terancam’ oleh bom teroris – yang seringkali muncul adalah meme lucu yang viral, cerita tukang sate yang lebih memilih diam di tempat karena takut rombongnya digaruk oleh satpol, selfie saat terjadi adegan tembak2an. Tidak masuk di akal memang – tapi itulah cara kita untuk menghibur diri saat dirundung stress. Saya jadi ingat satu insight dari ayah saya, bahwa mungkin hal ini diakibatkan karena jaman penjajahan dulu, bangsa kita begitu ditekan oleh penjajah sehingga rakyat jelata tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itu muncul karakter seorang ‘Mbok Emban’ lah di pagelaran pewayangan yang segar, lucu, dan selalu ditunggu-tunggu karena hidup saat penjajahan hanya bisa dibawa tertawa untuk mengurangi perih yang saat itu dirasakan.

2. Dunia tidak pernah ‘black and white’ bagi orang Indonesia

Pernah dengar pepatah salah kaprah ‘peraturan itu dibuat untuk dilanggar’? Secara tidak langsung hal ini akankah sangat membingungkan untuk expat. Karena di negara maju, saat ada peraturan maka itu merupakan harga mati yang harus diikuti oleh semua orang dan konsekuensinya melanggar itu jelas tidak bisa ditawar. Sedangkan di Indonesia, peraturan seringkali memiliki pasal yang karet. Stop sign dijalan ? Area dilarang merokok ? Tunjukkan STNK saat keluar parkiran ? Meeting jam 5 orang baru mulai hadir jam 5.30. Mengerti kan maksud saya ?.

Bayangkan bagaimana jika budaya tersebut masuk ke dunia kerja. Bahwa sang expat akan bingung senantiasa jika dia set deadline hari Senin tapi tugas yang diminta baru dikirim Selasa pagi. Dia sudah datang jam 5 tapi acara baru dimulai jam 6 dengan alasan ada kemacetan luar biasa diluar sana. Membingungkan bukan?

Nice reference on culture from HBR articles on To Lead Across Cultures, Focus on Hierarchy and Decision Making

3. Budaya kita adalah budaya yang cenderung ‘santai’

Pernah pergi keluar negeri? Jika dibandingkan kecepatan orang Indonesia berjalan kaki dibandingkan dengan orang non-Indonesia, hampir bisa dipastikan kita akan kalah. Karena dari kecil jika kita terburu-buru dan cenderung cepat dalam melakukan apapun, banyak orang justru balik bertanya ‘mau kemana sih kok buru-buru? Udah disini aja dulu ngobrol dan ngaso. Karena memang pada dasarnya tinggal di Indonesia itu memang enak, bahwa semua hal (bahkan kemiskinan) itu merupakan hal yang harus disyukuri, semuanya pasti ada ‘untungnya’. Di satu pihak hal ini baik karena menjadikan kita bangsa yang cenderung jauh dari kata stress, selalu berpikir positif, bersyukur atas segala hal, dan menyerahkan hidup kepada Tuhan YME.

4. Yes don’t always mean Yes – and No can be Yes

Pernah melihat bos expat berbicara ke sekelompok orang Indonesia untuk memberikan satu instruksi dan melihat banyak orang mengangguk-angguk ? Dilihat dari sisi sang expat, anggukan artinya mengerti, bukan? BUKAN! Semua orang Indonesia pasti paham bahwa anggukan dari orang Indonesia bukan selalu berarti mengerti atau paham. Tapi merupakan pertanda bahwa hal yang dibicarakan sudah didengar saja.

Sebagai bangsa yang cenderung sangat sopan, maka anggukan seringkali kita artikan sebagai tanda penghargaan vs. tanda persetujuan. Dan dengan budaya kita yang cenderung apapun bisa dilakukan, kadangkala hal-hal yang seringkali disangka mustahil dilakukan di awal – ternyata bisa terjadi. Bayangkan kebingungan orang yang tidak mengerti budaya ini. Bagaimana lalu batasan antara hal-hal yang bisa dilakukan atau tidak? Membingungkan bukan?

5. Kita adalah bangsa yang berkomunitas dan kolektif secara ekstrim

Dari jaman dahulu kita sudah dilahirkan sebagai bagian dari komunitas yang memiliki hierarchy. Entah itu komunitas RT/RW, Arisan keluarga besar, atau apalah namanya. Coba hitung ada berapa Whatsapp Grup komunitas yang kita bergabung. Dari kecil pun sudah ditanamkan slogan-slogan yang berbau kolektif seperti ‘Berat sama dipikul ringan sama dijinjing’ , ‘Musyawarah untuk mufakat’. Konsekuensinya ? Konsep gotong royong itu dan bersama-sama itulah yang membuat Indonesia kuat dan jaya. Tak heran jaman penjajahan dahulu hanya konsep devide-et impera yang berhasil merontokkan kekuatan kerajaan di Indonesia.

Kalau begitu, bagaimana aplikasinya di dunia kerja? Saat kita bekerja berkelompok, maka seringkali sulit mengidentifikasi siapa sebenarnya yang menjadi penggerak satu kelompok. Demikian juga sulit sekali untuk mencari bibit pemimpin karena semua orang berlindung di balik atas nama kelompok. Menonjolkan diri secara individual sedikit banyak merupakan hal yang tabu dan cenderung masuk kategori dikatakan sombong oleh sesama. Tidak heran jika relatif agak sulit mencari kader pemimpin di Indonesia.

Namun, kembali lagi ke dunia kerja – bayangkan jika anda menjadi bos (terlebih expat). Gimana tidak pusing jika semua pegawai anda cenderung santai dan tidak memiliki sense of urgency ataupun fear of losing their jobs. Karena ketidak mengertian mereka itu maka style leadership yang keluar akhirnya cenderung controlling, detail, cenderung tidak percaya dengan perkataan kita, dsb dsb yang akhirnya membuat kita ngomel karena merasa tidak dipercaya dan mengutuk expat leaders secara habis-habisan.

Jadi kalau saat ini anda membaca artikel ini sambil mengaminkan beberapa situasi yang dialami di atas – apa yang bisa kita lakukan secara pribadi untuk meminimalisasi konflik budaya ini supaya hubungan dengan sang expat menjadi lebih lancar ?

1. Less Baper, please!

Hilangkan asumsi, jangan mengambil semua perkataan sang expat dan dimasukkan dalam hati. Ingatlah bahwa mereka memiliki standar yang berbeda dengan kita. Biasakan untuk klarifikasi semua perkataan dia. Jika anda mulai berkata 'harusnya dia sebagai bos khan tahu..' nah itu ciri-ciri anda terlalu berasumsi. Lakukan klarifikasi bahkan jika itu artinya harus mengkonfrontasi dia ataupun bertanya ttg stupid questions. Ingatlah bahwa expat cenderung lebih menghargai konflik terbuka dan langsung diterapkan di depan mereka. Mereka cenderung tidak akan sakit hati jika berhubungan dengan dunia kerja karena mereka benar-benar memisahkan antara dunia kerja dan dunia personal.

2. Re-define Respect

Banyak hal yang kita definisikan sebagai bentuk rasa ‘hormat’ terhadap atasan expat kita – tapi jatuhnya malah membuat kita jadi sakit hati sendiri dan merasa bahwa kita di-injak-injak oleh mereka (victimized culture). Oleh karena itu, hilangkan hirarki saat berhubungan dengan expat, tapi definisikan kembali bagaimana bentuk rasa hormat yang sewajarnya bisa diterima oleh bangsa expat tersebut. Tidak lain tidak bukan , seringkali komunikasi terbuka secara langsung di awal hubungan kerja merupakan hal terbaik untuk menyepakati ways of working yang bisa diterima oleh culture kedua belah pihak.

3. Understand that there are global principles that (like it or not) we have to follow

Sadarlah bahwa ada beberapa hal yang memang sudah menjadi prinsip global yang memang harus dihormati saat kita berinteraksi dengan semua orang tidak peduli bangsa apapun seperti contohnya prinsip menghargai tepat waktu ataupun komitmen terhadap janji yang sudah kita ucapkan. Bahwa pada dasarnya ada beberapa hal yang sudah terlanjur salah kaprah (seperti kecenderungan kita melanggar peraturan) yang harus mulai kita ubah. Dimulai dari diri kita sendiri.

4. Think on what we’re good at to build our own confident individually

Jadi apakah kita selama berkomunitas dan berkolektif itu salah? Belum tentu juga – banyak juga manfaat dari berkomunitas dan berkolektif yang pastinya menjadi hal yang diidam-idamkan oleh bangsa lain. Dari kolektif itu sebenarnya lebih banyak hal yang bisa dicapai, dan rasa tanggung jawab itu ditanggung renteng beramai-ramai. Orang Indonesia juga sebenarnya sangat jago kalau sudah urusan melakukan, kita percaya bahwa ‘sedikit bicara banyak kerja’ Sehingga yang diperlukan sebenarnya adalah seorang pemimpin yang mengerti bagaimana memainkan kartu sehingga sisi kolektif dan budaya melakukan (vs. budaya debat) bisa menjadi hal yang menguntungkan sang pemberi kerja.

Nah bagaimana .. sudah siap untuk lebih mengerti dan memahami rekan kerja expat anda? setuju ? tidak setuju? kenapa? ditunggu dong komennya dibawah .. :)


Published on Jul 2 2017 https://www.linkedin.com/pulse/saat-frustasi-datang-karena-harus-bekerja-dengan-expat-irma-erinda/

4 views0 comments

Recent Posts

See All