Pernah Merasa Bodoh?

Updated: Nov 27, 2021


Pernah merasa bodoh? Well, selamat. Seharusnya kita semua bersyukur jika sampai detik ini kita masih merasa bodoh. Perasaan bodoh hinggap saat kita tidak tahu mengenai hal tertentu. Namun yang menjadi titik penting selanjutnya setelah kita merasakan bodoh adalah – apa yang akan kita lakukan dengan kebodohan kita itu?

Perasaan superior begitu mudahnya menghinggap di diri kita, saat kita secara intens berkecimpung di bidang tertentu. Lalu kemudian tibalah saatnya dimana kita diharuskan untuk berdiskusi,mengajar atau berbagi pengalaman. Dan terkadang muncul pertanyaan-pertanyaan liar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dari orang lain. Di saat tersebutlah, pola pikir kita yang sebenarnya akan ditantang. Apakah kita akan menjawab ‘tidak tahu’ atau kita akan mencoba untuk melakukan satu deduksi tingkat tinggi hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan tersebut dan terlihat bahwa kita mengerti (namun sebenarnya belum tahu) mengenai hal tersebut?

Adapun saat kita menjawab- pernahkah kita sendiri juga mempertanyakan hakikat konsep dari ‘benar’ atau ‘salah’? Adakah jawaban yang 100% benar atau 100% salah? Bisakah kita 100% benar? Lalu kenapa kita beranggapan bahwa jika jawaban tersebut berasal dari orang yang lebih tahu dari kita, seringkali jawaban dia kita anggap 100% benar tanpa mempertanyakan lebih lanjut. Baik itu pernyataan dari bos kita, orang yang lebih superior dari kita, orang tua kita, tokoh keagamaan, atau siapapun yang kita anggap memiliki ilmu lebih dari kita.

Memiliki perasaan bahwa kita masih bodoh akan membuat kita untuk mempunyai banyak pertanyaan di diri kita. Disaat kita mempertanyakan sesuatu dan penasaran, maka hanya disaat tersebutlah kita akan mulai mencari. Pencarian tiada henti yang membuat kita semakin berkembang. Disitulah awal mulai pembelajaran, baik self learning ataupun secara structured learning. Karena kita menyadari bahwa diri kita tidak tahu sesuatu. Atau mengutip bahasa yang sedang trend, inilah yang menjadi dasar pemikiran dari konsep ‘growth mindset’.

Lawan utama dari perasaan bodoh adalah ego. Hal yang mudah sekali terbentuk saat kita berada di satu tempat yang begitu lama sehingga kita merasa paling tahu, paling benar. Dan hal yang normal sekali ditemukan di orang-orang yang mengaku dirinya berpengalaman (baik itu pengalaman disebabkan karena waktu, atau pengalaman dari sisi intensitas). Karena memang tidak mudah untuk mengaku bahwa kita tidak tahu.

Namun, akan lebih bodoh lagi jika kedua hal itu dikombinasikan sehingga menjadi pola pikir ‘fixed mindset’

Situasi 1 : Bodoh + ego. Yang akan terjadi adalah polesan-polesan pernyataan yang sekiranya datang dari ketidaktahuan, namun juga tidak ada usaha untuk mulai mencari berbagai perspektif untuk mendekati kebenaran. Segala hal adalah ‘pokoknya’ namun saat ditanya, tidak ada satupun bayangan bagaimana melaksanakannya. Semakin dipoles, semakin banyak hal yang terasa harus disembunyikan karena sebenarnya isinya tidak ada apa-apa.

Situasi 2 : Bodoh + pasrah. Yang akan terjadi adalah perasaan tidak berdaya dalam menghadapi dunia dan terjadi pola pandang pembatasan usaha diri sendiri dalam menghadapi suatu situasi. Pola pandang menjadi korban dan merasa bahwa manusia atau dunia disekitarnya lah yang akan menjaga penghidupan kita.

Bahayanya, situasi kombinasi ini banyak ditemukan di dunia kerja. Ya, kita jadi bodoh saat kita berhenti untuk bertanya dan dan berhenti bersikap rendah hati (=humility). Karena begitu banyak alasan yang membuat kita menjadi lebih mudah untuk berhenti daripada mengaku bodoh. Lebih mudah untuk menjawab hal yang tidak benar daripada berkata tidak tahu.


Published on February 17, 2020 https://www.linkedin.com/pulse/pernah-merasa-bodoh-irma-erinda/

3 views0 comments