Death by Whatsapp Groups

Updated: Nov 27, 2021


Definisi : suatu situasi atau kondisi dimana terlalu banyak Whatsapp Group (WAG) beranak pinak tidak terkontrol dan tidak terbatas jumlahnya.

Apakah anda mengalami salah satu gejala dibawah ini ?

  1. WAG ada yang menjadi induk, lalu kemudian beranak pinak dan bahkan memiliki ‘cucu’

  2. Tiba-tiba dimasukkan ke WAG karena dipaksa/terpaksa/mau tidak mau menjadi bagian dari satu komunitas (halo teman satu team …)

  3. Muncul satu grup baru untuk project baru yang akan ditangani (dan bayangkan berapa banyak project yang harus ditangani dalam setahun di tempat kerja)

Saya yakin banyak dari profesional (dan non-professional) yang bisa relate dengan pernyataan saya diatas. Ketika saya cek jumlah WAG saya – astaga, saat ini saya tergabung dalam 106 WAG yang berbeda-beda! Tidaklah heran ketika saya mencoba memperhatikan jenis interaksi WA saya, dan saya menemukan lebih banyak pembicaraan via WAG daripada private message (PM) yang terjadi.


Sebenarnya perasaan ini sudah lama menghantui saya. Ketika saya merasa ada sesuatu yang salah dengan cara kita berkomunikasi di dunia digital dengan aplikasi yang bernama Whatsapp dan feature-nya yang bernama GROUPS ini.

Berikut beberapa hal salah kaprah yang menghantui saya :


1. Mudah dibuat, gampang dilupakan

WA group begitu mudahnya dibuat untuk satu hal yang paling sepele (#ketemuan jumat malam, #gengku, #grup dengan bos, #group tanpabos, #group SD/SMP/SMA, #grup RT/RW, #grup Arisan/Sekolah Anak, #group panitia acara) yang saat kita mencoba untuk menolak saat seseorang menyarankan dibuatnya WA group dengan alasan agar mudah berkoordinasi, kita tidak kuasa untuk berkata tidak. Karena memang WA adalah jalan paling simple (sampai saat ini) untuk koordinasi secara virtual dan komunitas yang berbeda-beda.

Namun seringkali saat group tersebut sudah tidak aktif untuk alasan apapun, maka jarang ada yang berani menyatakan bahwa satu grup itu bubar.

2. Saat terjadi perubahan dinamika di grup, alih-alih mengkonfrontasi – lebih mudah membuat grup baru.

Suatu grup terbentuk karena adanya persamaan, namun dalam dinamika kehidupan – wajar jika ada perbedaan pendapat yang mengakibatkan diskusi cukup meruncing, ataupun terjadi perubahan dinamika sehingga ada orang-orang yang tidak lagi dikategorikan sejalan dengan awal grup tersebut dibuat (hellow, coba diingat berapa kali grup baru terbuat karena teman yang sejatinya selevel tiba-tiba naik jadi bos, atau bos yang sudah pindah lokasi masih belum left group sehingga lebih mudah bikin grup baru).

Oleh karena itu, waspadalah saat grup yang tadinya ramai tiba-tiba jadi sepi.. mungkin saja sudah ada grup baru dengan anggota yang kurleb (baca: kurang lebih) sama.

3. Latah berjamaah

Saat ada satu anggota grup yang menyapa selamat pagi.. lalu tiba-tiba setiap hari ada 10x selamat pagi. Atau jika ada yang menyatakan kabar kedukaan, ramai-ramai satu WAG mengirimkan doa untuk orang tersebut (padahal.. alih-alih orangnya pun tidak ada di grup tersebut). Bayangkan jika grup tersebut penuh berisi 256 orang yang sangat aktif.. bisa dibayangkan setiap pagi apa yang akan terjadi. Belum lagi akan selalu ada satu-dua orang yang pasti menjadi biang kerok hoax, dan karena (sekali lagi) alasan ‘sungkan’ alih alih ditegur – maka orang tsb dibiarkan dengan alasan kasihanlah, sudah tua lah, dimaklumi sajalah… padahal postingannya membuat keruh suasana hati manusia-manusia didalamnya.

Latah berjamaah inipun berlaku untuk WA grup di tempat kerja, yang dengan alasan ‘agar semua orang tahu’ atau memang ada policy yang mengharuskan kita untuk standby 24 jam maka siapapun akan dengan mudah mengirimkan pesan di WAG pada jam apapun, sehingga akibatnya – saat kita terjaga jam 1 pagi pun, otak kita bisa langsung melayang ke pekerjaan yang harus kita lakukan esok hari.


Lalu kemudian ada suara lain yang berbisik di telinga saya. Ah sudahlah, tidak usah terlalu lebay… apa yang kamu alami itu juga dialami oleh orang lain kok. Tapi, apa iya, hanya karena semua orang melakukannya maka itu menjadikan hal tersebut sebagai kebenaran yang harus saya pegang? Bukannya dengan begitu, itu justru menjadikan saya sebagai korban lagi dari ket*lolan berjamaah (pardon my French).

Sehingga saya berpikir, tidak heran banyak orang mengambil sikap pasrah dalam kehidupan ini. Karena memang lebih mudah untuk memposisikan diri kita menjadi korban (victim) daripada memilih untuk merasa berdaya (empowered). Apakah iya saya membiarkan diri saya untuk menjadi salah seorang yang berkontribusi dalam statistik yang menyatakan bahwa orang Indonesia menghabiskan waktu 3 jam 26 menit setiap harinya di platform social media (yang di Indonesia didominasi oleh YouTube, Whatsapp, Facebook, dan Instagram). Oh betapa lelahnya dunia….

Oleh karena itu saya memilih untuk melawan. Karena sungguh saya tidak sudi untuk membahayakan kesehatan mental saya dengan potensi konsumsi berita digital yang tidak (selalu) banyak added valuenya untuk saya. Dan sungguh.. hal itu tidak mudah untuk saya yang merupakan seorang extrovert dan cenderung ingin untuk terlibat di semua hal.


Beberapa hal yang saya lakukan untuk mengembalikan (sedikit) ketenangan hidup saya adalah :


1. Be mindful. Berdamai dengan diri sendiri bahwa saya tidak harus ikut di semua WA grup yang seringkali saya tidak aktif. Jika memang ada orang yang japri karena nama saya ‘left’ (oh come on.., marilah mengaku saja fakta bahwa terlihat siapa yang left dengan jelas di WA group membuat kita jadi lebih memilih untuk mute suatu grup daripada memilih untuk meninggalkan sepenuhnya dan menjadi pergunjingan manusia-manusia didalamnya, atau bahkan, terancam ditarik lagi)

2. Jadi galak di grup. Ya, siapapun yang mungkin tahu beberapa kali saya menegur secara terbuka orang yang mengirim hoax di beberapa grup yang cukup besar, ternama, ataupun grup yang tabu ditegur (baca: grup keagamaan, grup keluarga). Baik kadang saya japri atau saya tegur dengan mencari berita aslinya. Karena saya muak dengan begitu banyaknya hoax aneh-aneh yang diforward atas nama ‘biar pada tau..’ terus kenapa kalau tahu? Apa iya yang dia tahu saya juga harus tahu? Kenapa juga saya harus tahu.. manfaatnya buat saya apa? Kenapa tidak dicoba saring sebelum sharing.

Kadang saya menjadi galak juga jika ada berita dukacita dimana orang ybs tidak ada di grup tsb. Kenapa sih harus memanjatkan doa di WA grup? Atau mengucapkan selamat ulang tahun di WA grup? Selalu ada pilihan untuk japri. Atau kita cuma sekedar FOMO saja biar orang lain tahu bahwa kita sudah mengucapkan selamat ulang tahun. *gubrak*

3. Ignorance is bliss. Untuk beberapa WAG pekerjaan yang bersifat 24 jam, ataupun saat saya sudah ada dirumah, kadang saya memilih untuk meninggalkan HP secara sengaja. Karena tidak ada yang bisa menandingi perasaan bahwa saya memiliki kontrol atas waktu saya sendiri – kapan saya mau balas atau kapan saya mau tidak balas. I understand bahwa ada beberapa konsekuensi yang mungkin akan merugikan saya dengan melakukan hal ini. Tapi, selama kita tahu resikonya – perasaan bahwa sayalah yang mengatur WAG dan bukan WAG yang memperbudak saya jauh lebih menyenangkan.

Satu hal yang pasti, WAG tidak akan pernah berkurang, hanya akan bertambah..dan karena saya lebih cinta ketenangan pikiran otak saya tanpa dihantui oleh keharusan untuk melihat screen terus menerus – saya memutuskan untuk bangkit kembali dari mati. Resurrect from the death.

Today's Challenge : Penasaran seberapa banyak WAG mempengaruhi kehidupan sosial media anda? Coba hitung berapa banyak WAG yang anda ikuti. Caranya adalah : simpan nomor anda sendiri sebagai kontak -->di kontak, klik 'message' via whatsapp icon (seperti mengirim pesan ke diri sendiri) dan anda akan terhubung ke WA --> klik view contact di WA dan check berapa jumlah group in commons (itulah jumlah WA yang anda tergabung). Jika <105 selamat..anda lebih baik dari saya. Please reply in comments ya - karena sungguh saya penasaran berapa sih rata-rata jumlah WAG orang-orang diluar sana :)


Published on February 10, 2020 https://www.linkedin.com/pulse/death-whatsapp-groups-irma-erinda/

1 view0 comments