Orang Tua VS Pilihan Kita (Belajar Nilai Kehidupan dari Film Cek Toko Sebelah)

Updated: Nov 25, 2021



Sebagai orang Indonesia, kita dibesarkan dengan nilai kehidupan dimana orang tua berperan besar dalam kehidupan kita. Kita menjadi saksi hidup bagaimana mereka bekerja membanting tulang dan banyak berkorban demi memberikan kualitas hidup terbaik bagi kita, menopang kehidupan dan membiayai pendidikan kita sampai kita lulus kuliah. Wajar saja jika kita sebagai anak merasakan pengorbanan mereka dan merasa hutang budi sehingga menjadikan tujuan utama kita dalam mencari kerja adalah membanggakan orang tua. Tapi bagaimana jika ekspektasi orangtua terhadap kita mengenai pekerjaan justru malah bertentangan dengan aspirasi diri kita sendiri?

Hati ingin kerja di perusahaan swasta, orangtua ingin kita kerja jadi pegawai negeri. Aspirasi ingin jadi pengusaha tapi orangtua ingin kita kerja di perusahaan ternama. Bakat dan minat di bidang kreatif tapi definisi orang tua pekerjaan adalah yang berdasi. Atau justru sebaliknya, tawaran beasiswa sekolah bertubi-tubi di kota besar tapi orangtua ingin kita kembali ke kota asal dan melanjutkan bisnis mereka karena mereka sudah tua.

Realitas ini yang begitu bagus ditangkap dan menjadi bahan renungan saya (tentu saja disela-sela terpingkal tertawa dari awal sampai akhir) saat nonton film Cek Toko Sebelah - nya Ernest Prakasa.

Film Cek Toko Sebelah menceritakan kehidupan tentang keluarga Koh Afuk dengan anak-anaknya Yohan (Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest Prakasa). Yohan pernah masuk ke jurang kehidupan kelam, drop out kuliah namun sekarang mulai menata kehidupan dan profesi sbg freelance fotografer dengan istri yang supportive (plus super cantik banget karena diperankan oleh Adinia Wirasti). Sebaliknya, Erwin adalah anak kebanggaan orang tua, kuliah di luar negeri, dengan karir cemerlang dan promosi jabatan di Singapore yang sudah didepan mata.

Namun nasib berkata lain, Koh Afuk yang memiliki toko grosir kelontong dengan realitas kehidupan bersahaja jatuh sakit dan mengharapkan Erwin meneruskan bisnisnya. Konflik keluarga pun muncul. Erwin terjepit di antara realita pilihan berbakti pada orangtua atau mengejar mimpi keluar negeri.


Saya jadi langsung ingat betapa tidak terhitung sudah saya mendapati mereka yang sedang career coaching dengan saya bercerita dengan mata berkaca bahwa pilihan aspirasi karir mereka tidak sesuai dengan keinginan orangtua mereka. Mereka terjepit antara dua pilihan kehidupan yang sulit. Menjalani kehidupan yang bertentangan dengan aspirasi atau terus maju di jalan kehidupan terjal pilihan sendiri.

Singkat cerita (karena akan lebih seru kalau kalian nonton sendiri filmnya) ada beberapa pelajaran kehidupan berharga yang bisa menjadi renungan kita semua : (don’t worry – no spoiler kok)

  1. Pada dasarnya semua orangtua ingin anaknya untuk bahagia. Tapi ada perbedaan persepsi mengenai definisi kebahagiaan kita di mata mereka vs. definisi kebahagiaan kita bagi diri kita sendiri. Buat Koh Afuk, definisi kebahagiaan adalah bisa memberikan tokonya kepada anaknya, sedangkan definisi Erwin adalah mengembangkan karirnya di luar negeri.

  2. Bahagia itu sederhana. Seringkali mereka sudah bahagia kalau kita mengerti sudut pandang yang diinginkan mereka. Dengan Erwin mencoba menjalankan toko selama sebulan saja sudah cukup untuk membuat Koh Afuk berbahagia.

  3. Kita dan orang tua dibesarkan di zaman yang sangat berbeda. Sehingga definisi apa yang kita inginkan dalam kehidupan pasti berbeda. Meski secara finansial mampu, Koh Afuk memilih tinggal di pemukiman sederhana dan pakai kaos tipis dan sandal jepit dari pagi sampai sore. Erwin hidup di apartemen mewah dan makan malam di resto paling hits. Oleh karena itu jangan harapkan orang tua bisa mengerti dalam waktu singkat mengenai pilihan karir kita. Perjuangan itu panjang bung!

  4. Tidak bisa dipungkiri kita hidup di culture yang conflict avoidance. Komunikasi itu sulit. Apalagi komunikasi yang menyebabkan kita harus berseberangan dengan orang yang kita cintai. Bahkan di film ini jika tidak karena ‘kebetulan’ Koh Afuk mendengar mengenai aspirasi Yohan dan Erwin, mungkin konflik tidak akan selesai.

Lalu bagaimana sekarang, kembali ke kehidupan nyata kita sendiri; apa yang harus kita lakukan jika ini adalah kisah yang terjadi dengan diri kita sendir?

  1. Merubah persepsi butuh proses dan waktu. Tidak semua itu harus berubah dalam waktu singkat. Kadang kesabaran dan (terutama) keberanian diperlukan untuk berkali-kali memberikan penjelasan kepada orangtua tentang kenapa kita memilih profesi kita tersebut.

  2. Konflik dalam batas wajar adalah hal yang biasa. Bagaimanapun kita mencoba menghindar, tapi masalah harus tetap dihadapi sebagai bagian dari proses pendewasaan diri kita. Ga usah baper kalau konflik. Ambil nafas dan mari kita coba saja pendekatan yang berbeda di kesempatan selanjutnya.

  3. Bedakan antara tuntutan dan harapan. Seringkali kita berasumsi bahwa keinginan orangtua adalah tuntutan harga mutlak. Coba ukur dengan mengutarakan dahulu mengenai aspirasi pilihan karir yang kita pilih dan cek seberapa pilihan profesi orangtua adalah harga mati atau masih bisa ditawar. Seringkali kita berasumsi tanpa mengecek asumsi kita. Coba berkomunikasi secara terbuka mengenai apa yang kita mau.

  4. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Pada akhirnya, kitalah yang menjalani pilihan hidup yang sudah kita ambil. Konsekuen dengan pilihan hidup kita. Jika memang pada akhirnya menurut dengan pilihan orangtua karena satu dan lain hal maka kita juga harus konsekuen dalam menjalaninya. Ataupun jika mengambil pilihan jalan terjal kita sendiri, sadari bahwa membutuhkan waktu dan keberanian untuk memberikan pengertian kepada orang yang kita sayangi.

Pada akhirnya, salut dengan film Cek Toko Sebelah. Jarang banget ada film komedi Indonesia yang dibuat dengan kualitas detail yang tinggi dan non-slapstick. Satu film dimana pemirsa disuguhi paket combo gelak tawa, tangis, haru, emosi, dan sarat nilai kehidupan berharga yang membuat siapa saja yang setelah pulang menonton film itu menjadi manusia yang lebih baik (yah, paling tidak .. jadi lebih happy karena tertawa ngakak sepanjang film). Pokoknya.. wajib nonton ya!!


Published on Jan 17, 2017 https://www.linkedin.com/pulse/orangtua-vs-pilihan-profesi-kita-belajar-nilai-kehidupan-irma-erinda/

2 views0 comments