Gimana Cara di 'spot'​ atau nge'spot'​ High Potential Talent


Malam-malam tiba-tiba wa notif berbunyi di hp saya dan 'Mba, si Anto di-promote jadi manajer, dalam waktu cukup singkat lho padahal dia masuk bukan sebagai MT. Makasih ya udah nge-'spot' dia dan bikin dia masuk sini'. Dan hati saya pun tiba-tiba terasa hangat. Sebenarnya kebahagian seorang HR itu cukup retjeh, cukup dengar saja bahwa orang yang dia 'spot' berhasil bersinar di tempat kerja di perusahaan tsb. Dan kemudian pertanyaan lanjutan di wa tersebut membuat saya berpikir keras krn dia bertanya 'Mba, apa sih rahasia lo bisa spot talent bagus berpotensi padahal si talent tersebut kemungkinan besar masih clueless gitu?'.

And it got me thinking .. karena terus terang, saya bisa dibilang cukup bangga dengan kemampuan saya untuk menjadi 'cenayang' saat melihat potensi talent-talent bagus. Beberapa anak-anak yang saya punya 'strong feeling' terbukti mampu punya karir yang melesat di Unilever, tempat saya mengabdikan diri selama 13 tahun dimana sebagian besar waktu saya di HR pekerjaannya adalah untuk spot talent mencari talent dan mengembangkan talent terbaik masa depan. Jadi sebenernya ada resepnya ga sih talent yang bisa di'spot' sama recruiter itu seperti apa ... ?

Terus terang saja, cari talent yang bagus di Indonesia itu susah dan ga gampang. Layaknya diamond in the rough seringkali orang ga sadar akan potensi mereka. Pun mereka yang sadar mereka punya potensi, seringkali either bermental jumawa atau malah memilih untuk tidak mengembangkan potensi mereka karena punya fixed mindset.

Saya sampai punya teori sendiri yang saya namakan 'UFLP Cobweb' yang selalu saya ajarkan ke team saya untuk mengenali profil kandidat dan apa yang harus ditanya & digali berdasarkan profil-profil tersebut sehingga mendapatkan jawaban yang seutuhnya (alias ga dibuat-buat). Jadi balik lagi.. ada ga sih resepnya? gimana caranya jika saya sebagai kandidat ingin di spot oleh recruiter perusahaan gede? atau sebaliknya - gimana caranya sih saya untuk nge spot talent berpotensi (alias diamond yang masih roughhhhh banget) di Indonesia ini. Berikut saya coba recall hal-hal yang saya lihat di beberapa anak yang membekas waktu saya ketemu mereka pertama kali dan insting saya benar karena mereka terbukti melesat dalam karir mereka.


1. Mereka apa adanya alias they are authentic. Saat berinteraksi dengan rekruter, biasanya mereka berlaku apa adanya dan bertanya karena mereka beneran mau tanya dan mau tahu. Kebanyakan orang akan sibuk dalam pikiran mereka untuk mencari pertanyaan apa yang membuat mereka terlihat pintar/terlihat tidak bodoh, atau malah sebaliknya sibuk dengan pikiran mereka sendiri karena takut di judge orang nanti dibilang sok tahu. Orang yang authentic akan merasa nyaman dengan menjadi dirinya sendiri dan tidak terlalu ambil pusing bagaimana orang akan menilai perkataan ataupun perbuatan mereka dengan orang lain.


Banyak orang bilang ga mau menonjol karena takut dibilang sombong. Padahal percaya diri itu definisinya adalah bahwa seseorang itu tahu bahwa dia pintar dalam melakukan sesuatu hal. Sementara definisi orang sombong adalah bahwa saat seseorang merasa bahwa dia lebih pintar dari orang lain. Jadi kenapa takut dibilang sombong kalau sebenarnya yang kita miliki itu adalah rasa percaya diri yaitu bahwa keyakinan bahwa kita bisa melakukan sesuatu tanpa perlu membanding-bandingkannya dengan orang lain?


2. Punya rasa ingin tahu yang tinggi. Seringkali mindset curiosity ini sering disalah artikan jadi kepo yang konotasinya malahan seringkali negatif. Menurut saya perbedaan fundamental antara kepo dan curiosity adalah kita harus jelas intensi atau tujuannya adalah untuk apa. Kepo tentang kehidupan orang lain lewat instagram yang tujuannya malah bikin kita nyinyir atau julid itu jelas sangat berbeda dengan definisi being curious dimana mendalami kehidupan orang lain karena ingin tahu struggle dan challenges apa yang dihadapi saat menuju sukses untuk dijadikan inspirasi saat kita melalui jalan yang sama. Orang dengan curiosity tinggi akan cenderung mengeksplorasi potensi mereka, mencoba hal-hal baru, dan melakukan hal-hal yang diluar kewajaran dan sekali lagi, nyaman saat orang lain mencemooh karena mereka tahu, mereka melakukan itu bukan untuk dilihat orang lain tapi untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Unfortunately, seringkali orang (kalau ditanya kenapa kepo) memang jawabannya adalah mereka kepo untuk inspirasi. Tapi coba deh, bener-bener jujur sama diri sendiri - seberapa jauh sih kita refleksi dan ingat-ingat cerita kepo yang kita baca disaat kita lagi ditantang dan menjadikan itu sebagai inspirasi penguatan buat kita sendiri saat sedang tertantang?

3. You see fire in their eyes. Duh susah banget, apa iya saya harus berapi-api maksudnya gitu saat ngomong dengan orang lain? Ga gitu juga kali bambang.. Memiliki api simply berarti bahwa tunjukkan bahwa kamu mau saat ngobrol dengan orang lain, siapapun dalam konteks apapun. Tunjukkan bahwa memang kamu menginginkan itu. Show that you WANT it. Ga usah shy-shy cat alias malu-malu kucing padahal butuh. Terus abis itu mengeluh kenapa kok saya ga pernah tembus lolos dapat kerjaan. Ga cuma hanya dengan perkataan, tapi juga dengan perbuatan. Lakukan research, jalin network di Linkedin, datang ke acara-acara perusahaan tersebut. Bicara dengan siapapun yang kira-kira bisa membuka jalan kamu masuk perusahaan tersebut. Buka jalanmu sendiri dan perbesar kemungkinan kamu untuk direkrut.


4. Pola pikir Growth Mindset adalah kunci. Coba perhatikan cara orang berkomunikasi. Apa pilihan bahasa yang dia pergunakan? Seberapa sering dia mempergunakan kata 'takutnya' ? Apa kata pertama yang keluar saat kita menyebutkan challenge? Bagaimana cara dia berefleksi tentang semua unfortunate events yang pernah dialami di masa lalu. Apakah cenderung menjadi memposisikan diri sebagai korban (victimized) atau justru menerapkan pola pikir berdaya (empowered) dengan bersyukur dan belajar untuk membal dari pengalaman tersebut ? Hal ini bisa dibilang no 1 yang wajib dimiliki ataupun dicari oleh recruiter saat hendak merekrut talent.

Saya selalu bilang bahwa 'spotting' talent (baca : rekrutmen) itu hanya 1 tangan tapi tangan lain yang harus diperhitungkan adalah 'developing' talent tersebut untuk menjadi sukses. Karena banyak juga di masa lalu saya spot talent yang menurut saya bagus, tapi karena talent tersebut memilih untuk tidak mau dikembangkan akhirnya karirnya juga jalan di tempat. Jadi ini merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan bahwa setelah mereka masuk, mereka akan bisa tumbuh menjadi leaders yang diharapkan oleh perusahaan.

Kenapa saya taro Growth Mindset adalah poin terakhir dan menurut saya adalah kunci dari semuanya? Karena di akhir artikel ini saya pengen ngajak semua yang baca artikel ini untuk mikir. What do you think about this article? Impossible ? Susah ? Bisa diterapkan? Mau challenge? Monggo, pick your side.


Published on August 11, 2021 https://www.linkedin.com/pulse/how-spotted-recruiter-irma-erinda/

7 views0 comments