Berlatih Seni Menempatkan Diri di Proses Rekrutmen FGD



Dalam proses rekrutmen, sesi FGD (Focus Group Discussion) bisa dibilang adalah sesi andalan dari perusahaan. Karena di sesi FGD adalah cara paling mudah untuk meng-eliminasi pelamar kerja (yang biasanya masih di tahap early jobbers) di tahap awal. Tapi sayangnya, hampir tidak ada instansi pendidikan yang memberikan pembelajaran mengenai bagaimana mempersiapkan murid-murid mereka dalam menghadapi FGD ini. Sehingga kadang saat saya berbicara dengan mereka – banyak dari mereka yang mendapatkan ilmu menghadapi FGD ini dari turunan perkataan temannya (a.k.a ilmu ‘katanya’) atau asumsi ( a.k.a ilmu ‘saya pikir’ ) yang dengan mudah sebenarnya bisa dikategorikan menjadi ilmu hoax jika konteksnya tidak tepat. Oleh karena itu, saya iseng ingin menuliskan beberapa ilmu hoax yang saya pernah dengar mengenai ilmu FGD

Hoax 1 : lebih baik jadi orang yang berbicara pertama

Membuka FGD dengan jadi orang yang berbicara pertama memang baik, pastinya diri kita mendapatkan nilai plus dimata panel pengamat, tapi kalau hanya sekedar membuka tanpa memiliki pendapat yang berbobot itu akan dengan mudah juga dilupakan oleh panel pengamat.

Hoax 2 : Leader = moderator

Banyak orang mengartikan leader di FGD = moderator yang memastikan bahwa semua orang itu berpendapat dan didengar. Hati-hati bung, ini adalah proses rekrutmen dimana panel pengamat pastinya ingin tahu apa sih pendapat kamu sebagai individu. Jangan cuma berlaku sebagai fasilitator / moderator saja yang malah jadinya substansi dari pendapat kamu malah tidak muncul.

Hoax 3 : harus aktif dan banyak berbicara

Jika kamu mengartikan bahwa siapapun yang akan diterima adalah yang paling banyak berbicara alias paling banyak SOV (Share of Voice), mungkin pendapat itu bisa dikategorikan sebagai hoax :) Kemampuan untuk aktif dan banyak berbicara itu hanyalah indikator dari seseorang yang mungkin tipenya adalah agresif atau ekstrovert. Jika kebetulan itu adalah kriteria utama yang diperlukan di suatu pekerjaan tertentu, mungkin itu adalah benar. Tapi tidak semua orang harus menjadi agresif dan ekstrovert untuk menjadi leader. Banyak pemimpin yang mumpuni di dunia kerja adalah orang-orang yang justru tidak banyak berbicara tapi sekali mereka berbicara maka mereka didengarkan oleh timnya. Demikian juga dengan ilmu yang bisa diterapkan di FGD. Tidak semua orang harus menjadi ekstrovert kok.

Oleh karena itu, menurut saya ilmu ikut FGD itu adalah ilmu yang susah-susah gampang. Susah karena sedikit banyak tidak bisa diprediksi arah diskusi dan dinamikanya nanti akan seperti apa, namun gampang karena sebenarnya modalnya adalah keyakinan akan diri sendiri (baca : PD alias Percaya Diri)


Namun, berdasarkan pengalaman saya menyaksikan ratusan FGD untuk rekrutmen dengan dinamika yang berbeda-beda, berikut beberapa hal yang bisa saya simpulkan

Scan your environment

Sebisa mungkin kenali siapa tim satu grup FGD kita, dan prediksi siapa yang kira-kira akan menjadi orang yang tipe agresif, pasif, siapa yang sudah punya banyak pengalaman, sehingga kita bisa memperkirakan dinamika seperti apa yang akan terjadi di FGD rekrutmen yang akan terjadi

Feel the dynamics and bring your own weather

Kadang dinamika team begitu cepat, begitu keras, atau bisa juga begitu lambat dan sangat sunyi. Jadilah dirimu sendiri dan kendalikan ‘cuaca’ yang kamu inginkan. Saat banyak orang berdebat tidak kunjung usai, jadilah penengah yang bisa mendamaikan. Sebaliknya jika diskusi sangat sunyi, lontarkan ide-ide orisinal yang bisa menjadi bahan pokok diskusi selanjutnya. Jika diskusi berimbang, bangun ide diatas ide yang sudah baik dan ikuti dinamika kecepatan berdiskusi sambil 'bermain' dengan cantik agar pendapat kita dibeli oleh team yang lain. Tetap fokus pada objektif yang diberikan untuk FGD dan sesuaikan dengan batas waktu & guideline yang diberikan.

Substance is king

Pada akhirnya, panel pengamat akan memperhatikan content/isi dari ide yang dikemukakan oleh para kandidat. Pastikan pendapat kamu berbobot dan memang ada isinya dilengkapi dengan data pendukung dan bukan hanya berupa opini tanpa bukti. Pada akhirnya disinilah diperlukan level ke-PD an yang memang harus cukup karena kemampuan mengolah data dan mengemukakan pendapat tidak bisa datang begitu saja tanpa dilatih sebelumnya.

Silence is (NOT) golden

Kadang saya suka bingung ada partisipan FGD yang saya lihat dari CV harusnya banyak bisa berkontribusi namun justru saat FGD tidak berbicara apapun. Pada akhirnya panel pengamat bukanlah cenayang yang bisa membaca apa yang ada di pikiran kamu. Satu-satunya cara untuk dapat memberikan penilaian yang berimbang adalah dengan mendengarkan apa ide/pendapat yang dikemukakan diatas meja. Malu/takut salah bukanlah alasan untuk tidak berbicara satu kalimat pun. Pada akhirnya, apa sih yang paling jelek yang bisa terjadi? Tidak diterima kerja? Ya sudahlah.. pada akhirnya tidak semua juga akan bisa diterima juga khan? Tapi paling tidak – kamu sudah berhasil mengalahkan dirimu sendiri dengan tidak takut malu & berani salah dalam mengemukakan pendapat. It’s okay to be wrong, forgive and move on…

Pada akhirnya, semuanya itu tidak ada ilmu pastinya. Dan rasa PD itu juga tidak bisa di bangun dalam satu atau dua hari persiapan mencari pekerjaan. Tapi bisa dikalahkan selama kita mau untuk membangun diri kita sendiri. Yang bisa dilakukan adalah cari tahu apa yang harus dilakukan dan ketahuilah konsekuensi dari setiap hal yang kita lakukan di proses seleksi pekerjaan. Just be authentic and build yourself better everyday.. Ingatlah bahwa proses seleksi mencari kerja itu hanyalah satu hari sementara proses manusia bekerja itu tidak akan pernah berhenti.

1 view0 comments

Recent Posts

See All