Lulus terus cari kerja atau cari kerja terus lulus?



Salah satu pertanyaan yang paling banyak ditanyakan oleh mahasiswa tiap kali saya ke kampus adalah pertanyaan diatas. Apakah lebih baik saya lulus dulu baru cari kerja atau cari kerja dulu baru lulus? Dan pertanyaan tersebut selalu saya coba kembalikan dengan jawaban ‘Kenapa dua aktivitas tersebut harus dilihat sebagai satu sequential? Apa iya bahwa layaknya sekolah dari SD lanjut ke SMP, lalu baru bisa ke SMA dst - lalu menjadikan kamu berpikir bahwa cari kerja itu baru bisa dilakukan setelah kamu lulus?'

Lalu setelah itu biasanya muncul lah 1001 alasan dari mulai kenapa sang mahasiswa lebih baik ‘fokus ke kuliah dulu biar cepat lulus sehingga tidak membebani orang tua’, ‘orang tua mau saya fokus dulu ke nilai-nilai saya’ sampai alasan ‘saya masih bingung habis kuliah mau ambil S2 atau kerja, dan sebagainya’ yang sepertinya menjadi pembenaran diri bahwa selama di dunia perkuliahan itu kegiatan mencari pekerjaan sesudah kuliah adalah satu hal yang tabu.

Padahal kenyataannya, bayangkan betapa enaknya jika kita bisa menjalani hari wisuda dengan tawaran pekerjaan di tangan. Tidak ada lagi perasaan ketidakpastian karena kamu sudah tahu apa yang akan dilakukan setelah dunia perkuliahan berakhir.

Oleh karena itu, mungkin bisa dipikirkan beberapa pertimbangan berikut ini yang bisa membantu kamu mengurangi kegalauan mencari kegiatan setelah kelulusan di kampus saat kamu masih di dunia kuliah.

Dari sisi sang pencari kerja : Dream, Explore, Decide

Dream : Proses perencanaan mengenai apa yang ingin kamu lakukan setelah kuliah bukanlah satu hal yang tidak mungkin untuk dipikirkan dari sejak kamu duduk di tahun kedua, bahkan dari sejak kamu di tahun pertama. Bermimpi itu tidak butuh banyak waktu. Tapi paling tidak dimulai dengan mimpi kamu bisa mulai menentukan kearah mana jalan kehidupanmu akan bergerak.

Explore : Siapa bilang bahwa job fairs itu hanya diperuntukan bagi orang yang akan/sudah lulus. Dalam kapasitas kamu yang masih jauh dari kelulusan – kamu juga bisa dikategorikan sebagai para pencari kerja (…dalam beberapa tahun). Jadi tidak ada salahnya kamu berinteraksi dengan banyak perusahaan dimulai dari sekarang. Sekedar untuk bertanya, berinteraksi dengan banyak orang dari dunia kerja akan memberikan gambaran mengenai apa yang harus kamu persiapkan dalam beberapa tahun mendatang, sekaligus memberikan gambaran perusahaan mana yang kelihatannya oke untuk bekerja.

Decide : Network tidak bisa dibuat dalam jangka waktu singkat. Jika kamu sudah paling tidak memiliki gambaran tentang perusahaan idaman setelah kelulusan nanti - tidak ada salahnya kamu mulai kepo, stalking dan start engaging dengan tujuan stakeholders mapping. Siapa yang kira-kira bisa memberikan kamu kisi-kisi bagaimana cara terbaik masuk ke perusahaan tersebut?

Dari sisi sang pemberi kerja : build your credibility with us.

Corporations buy life experience not grades nor degree. Apa yang kamu alami di masa kecil, dimana kamu diajak berpindah-pindah kota mengikuti orang tua kamu atau saat kamu SD, mencoba jualan mainan yang saat itu lagi hits itu, sama menariknya dengan apa yang kamu sudah pelajari di dunia perkuliahan. Setiap kejadian di kehidupan itu pasti mengajarkanmu sesuatu, mengenai diri kamu yang mungkin saja bermanfaat bagi perusahaan dan membuat kamu berbeda dibandingkan dengan kandidat yang lain.

We hire those that are top of our mind. Setiap harinya kita sudah melihat puluhan, ratusan, bahkan ribuan lamaran yang masuk melalui begitu macam media. Namun, jika memang ada seseorang yang kita temui saat kita berinteraksi di kampus (bahkan jika orang tersebut mahasiswa tahun pertama/kedua pun) yang memberikan impresi yang baik pastinya akan kita ingat sampai kapanpun dan jika ada lowongan mungkin saja orang tersebut adalah orang pertama yang akan kita hubungi.

The attraction needs to be mutual! Bukan saja kita yang harus mendekat ke pencari kerja, tapi kita juga memberikan kesempatan kok untuk pencari kerja mendekat ke kita – bahkan meski saat lowongan itu belum ada. Ikutlah kegiatan kita di kampus dan sapa kita, colek kita di social media, adalah sedikit contoh dari berbagai macam interaksi yang wajar dilakukan oleh pencari kerja.

Nah, membaca beberapa hal tersebut diatas – semoga membuat kamu berpikir sekali lagi mengenai kapan & bagaimana pekerjaan itu bisa didapatkan. Yuk bersama kita buat generasi muda Indonesia yang lebih siap kerja!

Published on September 8, 2016 - https://www.linkedin.com/pulse/lulus-terus-cari-kerja-atau-irma-erinda/



8 views0 comments