Jadi Ambisius. Segitu Tabu-nyakah?



Kalau misalnya disuruh menilai kadar keambisiusan diri sendiri, saya yakin banyak yang menjawab ‘Gue orangnya gak ambisius kok, biasa-biasa aja’. Seolah kata ambisius itu adalah kata yang tabu untuk melekat pada diri seseorang. Bahwa menjadi ambisius konotasinya adalah seseorang yang jahat, yang hanya mengutamakan diri sendiri dan tidak bertoleransi terhadap orang lain. Sehingga saya jadi tergelitik untuk membahas, apa sih arti ambisius itu? Dan kenapa banyak dari kita yang alergi? Perhatikan saya berkata banyak dari kita. Jika memang anda yang baca artikel tidak merasa ini relevan. That’s fine. Tidak semua artikel kita harus bisa relate.


Menilik dari arti kamus besar Bahasa Indonesia, arti ambisius/am·bi·si·us/ a adalah berkeinginan keras mencapai sesuatu (harapan, cita-cita). Penekanannya adalah keinginan keras. Yang seharusnya, tidak ada yang salah dengan memiliki keinginan yang keras.

Jika memang memiliki ambisi adalah suatu hal yang tabu, maka Indonesia tidak akan pernah memiliki cukup banyak pemimpin yang bisa memanfaatkan bonus demografis sebagai negara kaya dengan generasi muda yang produktif. Sehingga jangan salahkan jika banyak expat yang masuk untuk menjadi pemimpin di perusahaan besar atau kecil. Namun, kenapa saat itu terjadi, yang ada dilakukan banyak orang saat ini adalah menggerutu. "Kenapa harus ada expat sih? Banyak orang Indonesia yang mampu memimpin perusahaan besar". Mampu.. YA, betul. Mau? Itu lain masalah.

Banyak orang mampu tapi tidak mau untuk memimpin karena takut dicap ambisius itu tadi. Menjadi seorang pemimpin adalah pilihan, bukan masalah kemampuan. Menjadi seorang pemimpin adalah pilihan yang diambil oleh seorang individu yang dengan kesadaran penuh menyadari bahwa dirinya akan memiliki pengikut dan suaranya akan menjadi pengaruh bagi banyak orang. Tanpa disadari sekarang banyak sekali pemimpin informal di masyarakat dengan banyak munculnya selebgram, youtuber, pemberi workshop dari yang memang mumpuni sampai yang abal-abal. Dimana suara mereka pasti didengar dan mau tidak mau, mereka adalah pemimpin yang akan ditiru oleh orang yang mendengarkan mereka.

Sayangnya, saat orang mau memimpin – sering mereka tidak sadar bahwa menjadi pemimpin juga harus dibarengi dengan kemampuan. Yang mau belum tentu mampu, yang mampu seringkali tidak mau.

Saat ambisi dimiliki oleh orang-orang yang tidak mampu, disitulah blunder terbesar datang. Tanpa disadari, semua pemimpin pasti punya ambisi. Tapi apakah ambisinya itu dipakai untuk memuaskan ego pribadi atau digunakan untuk mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat disekitarnya, sekali lagi - itu adalah pilihan.




Jika memang ambisi adalah suatu hal yang tabu, maka tidak akan mungkin seseorang akan mencapai apapun di dunia ini. Tidak akan mungkin seorang anak desa akan mampu berjuang di kota besar dan bisa memberikan penghidupan bagi keluarga dan desanya. Tidak akan mungkin seorang atlet Indonesia bisa menang di kancah Asian Games/Olimpiade. Tidak akan mungkin seorang anak bangsa memperjuangkan idealismenya dan mengubah dunia lewat platform teknologi seperti kitabisa.com, qlue, gojek, traveloka, dan semua platform kebanggaan negeri Indonesia ini yang membuat Indonesia menjadi satu-satunya negara dengan unicorn terbanyak di Asia Tenggara.

Lalu bagaimana? Pertama kali, mari kita mulai berdamai dengan kata ‘ambisi’. Dimulai dari dalam pemikiran kita sendiri dulu. Bahwa yang harus dimiliki yang utama adalah mencari makna dari perjalanan kehidupan kita (atau bahasa kerennya : Purpose). Sehingga mau seberapa ambisius nya kita dalam kehidupan, kita bisa dengan jelas menjelaskan pada diri sendiri (dan orang lain) tentang apa arti dari perjuangan hidup kita yang berambisi ini.

Kenapa kita dilahirkan di dunia ini dan makna apa yang kita berikan kepada kehidupan sosial di sekitar kita. Karena saat kita mengerti tentang makna (atau purpose) dari diri kita sendiri, maka aktivitas kita, kegiatan yang kita lakukan akan menjadi lebih berarti. Bahwa kita telah ditakdirkan untuk menjadi orang Indonesia dan adalah tugas kita untuk membuktikan bahwa kita adalah bagian dari bangsa yang besar. Berani untuk mengubah dunia dengan kemampuan yang kita miliki, baik sekecil apapun dimulai dari diri sendiri. Keberanian yang muncul karena kita tahu tentang kemampuan diri kita sendiri meski seringkali dunia disekitar kita mendikte ke arah yang lain. Keberanian untuk menjalani kehidupan yang kita rencanakan, bukan hanya berpasrah pada jalan hidup tanpa perjuangan berarti.




Published on April 21, 2019 https://www.linkedin.com/pulse/jadi-ambisius-segitu-tabu-nyakah-irma-erinda/


2 views0 comments

Recent Posts

See All